Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah tempat di mana sampah mencapai tahap terakhir dalam
pengelolaannya. TPA merupakan tempat di mana sampah diisolasi secara aman agar tidak
menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, diperlukan penyediaan
fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik (Rahim,
2018).

TPA Sukawinatan di Palembang.
Sumber: tribunnews.com

 

TPA terbesar yang ada di kota Palembang adalah TPA Sukawinatan yang terletak di Kelurahan
Sukajaya, Kecamatan Sukarami. Berdasarkan Arsip dokumen Bidang pengelolaan TPA dan
Limbah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Palembang (LHKKP) tahun 2017, luas
TPA Sukawinatan mencapai 25 ha. TPA Sukawinatan masih melaksanakan sistem open dumping
yaitu sistem pengelolaan sampah terbuka. Sayangnya, di TPA ini menurut sumber di atas, belum
dilakukan pengolahan terhadap cairan yang keluar dari sampah atau lindi. Sehingga lindi
mencemari tanah di sekitar kawasan TPA tersebut.

Lindi dalam bahasa Inggris disebut sebagai Leachate. Lindi sebenarnya bisa dimanfaatkan
sebagai pupuk dan kompos cair jika sampah yang ada dipisahkan antara sampah organic dan
sampah anorganik. Bila sampah tidak dipisahkan, maka cairan yang keluar dari sampah justru
menjadi racun dan mencemari tanah di sekitarnya.

Kebanyakan TPA di kota-kota di Indonesia termasuk Palembang termasuk ke dalam TPA open
dumping. Sebenarnya, sistem pengelolaan sampah di TPA bukan hanya open dumping. Sistem
pengelolaan sampah di TPA dibedakan menjadi 3 macam yakni: open dumping, controlled land,
dan sanitary landfill.

1. Open dumping
Sistem pengelolaan sampah Open dumping dicirikan dengan penimbunan sampah di
tempat terbuka. Jenis pengelolaan ini dapat mengakibatkan pencemaran tanah dan udara.
Hal ini disebabkan sampah yang tidak ditutup dan dibiarkan membusuk maka akan
menghasilkan gas metana yang dengan mudah terlepas ke atmosfer. Metana (CH 4 ) adalah
gas yang dihasilkan dari pembusukan sampah dan menjadi salah satu gas rumah kaca
yang menyebabkan pemanasan global. Sistem ini adalah sistem pengelolaan sampah yang
paling buruk karena limbah dari TPA bisa mencemari lingkungan secara langsung.

2. Controlled land
Pada sistem pengelolaan controlled land, sampah yang telah dikumpul dalam suatu
wilayah kemudian ditimbun dengan tanah. Sampah yang telah terkumpul kemudian
dipadatkan untuk mengurangi pemakaian ruang yang berlebihan. Sistem ini mengurangi
dampak yang ditimbulkan dari sistem open dumping namun tetap berpotensi
mencemarkan lingkungan sekitar karena sampah hanya ditutup dengan tanah. Air yang
merembes dari sampah dapat mencemari tanah di sekitarnya.

3. Sanitary landfill
Menurut Hendra (2015), sanitary landfll adalah metode memasukkan sampah ke dalam
ke dalam tanah, dengan menyebarkan sampah secara lapis perlapis pada sebuah site
(lahan) yang telah disiapkan, kemudian dilakukan pemadatan dengan alat berat, dan
kemudian ditutup dengan tanah penutup. Lapisan geomembran yang diterapkan dalam
sistem ini mencegah lindi mencemari tanah di sekitarnya.
Pada sistem pengelolaan Sanitary landfill, gas metana hasil dari pembusukan sampah
tidak terlepas ke atmosfer secara langsung. Terdapat pipa-pipa yang mengalirkan gas
metana hasil pembusukan sampah dalam sistem ini. Pipa-pipa itu mengalirkan gas
metana supaya tidak terlepas ke atmosfer untuk dijadikan biogas.

Ada beberapa kelebihan dari pengelolaan dengan sanitary landfill. Lindi yang dihasilkan
dari sistem pengelolaan sanitary landfill bisa diolah lebih lanjut untuk dijadikan kompos
cair sehingga tidak mencemari tanah. Gas metana dari sampah pun bisa dimanfaatkan
untuk dijadikan biogas. Sehingga lindi dan gas metana tidak mencemari lingkungan.

Dari ketiga sistem pengelolaan sampah, sistem sanitary landfill adalah sistem yang paling baik
karena tidak membiarkan lindi dan gas metana mencemari lingkungan secara langsung. Lindi
dan gas metana diperangkap dan dialirkan untuk diproses lebih lanjut. Sudah selayaknya TPA di
Palembang menerapkan sistem ini, mengingat dampak pencemaran yang ditimbulkan dari sistem
open dumping terhadap lingkungan.

Penulis : Titus Trias Trapsila

 

Referensi:
Arsip dokumen Bidang pengelolaan TPA dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan
Kota Palembang (LHKKP) tahun 2017.
Hendra, Y. 2015. Perbandingan Sistem Pengelolaan Sampah Di Indonesia Dan Korea Selatan:
Kajian 5 Aspek Pengelolaan Sampah. Jurnal Aspirasi. 7 (1): 77-91.
Rahim, I. R. (2018). Sosialisasi Keselamatan Kerja dan Mitigasi Bencana Pada Tempat
Pengolahan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa, Kota Makassar. JURNAL TEPAT:
Applied Technology Journal for Community Engagement and Services, 1(1), 11-16.
https://palembang.tribunnews.com/2019/09/01/pemkot-palembang-bakal-sulap-tpa-sukawinatan-
menjadi-taman-buah-dan-sayur-plus-tempat-rekreasi