Pada Sabtu, 4 Juni 2021 lalu, diselenggarakan webinar LAKSMI Talks: Atasi Kerusakan Lingkungan dengan Kearifan Lokal. LAKSMI Talks adalah bagian dari rangkaian kampanye #berubahdarirumah. LAKSMI sendiri adalah program yang diselenggarakan oleh Saraswati, dan Diageo Indonesia. LAKSMI saat ini memiliki program pendampingan di Desa Nyambu, Tabanan, Bali dalam rangka mengupayakan desa pengurangan plastik sekali pakai pertama dan mendorong ekowisata Nyambu.

Nah, LAKSMI Talks merupakan salah satu program LAKSMI yang tujuannya, berbagi mengenai isu-isu lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan strategi pengurangan plastik sekali pakai. Dalam webinar ini, LAKSMI mengundang dua pembicara yang menginspirasi.

Hutan adalah jati diri bangsa.

Pembicara pertama yakni Mardiyah Chamim, M.M. Beliau adalah jurnalis dan penulis buku Menjaga Rimba Terakhir. Pada webinar ini, beliau menceritakan pengalamannya selama menjadi reporter di Tempo yang mengangkat isu lingkungan hidup. Salah satu pengalaman beliau adalah berjumpa dengan seorang bapak di
Kalimantan yang memiliki tato bertuliskan 1981. Apa maksud dari 1981 itu? Ternyata 1981 merupakan tahun saat hutan-hutan di Kalimantan dimasuki dan dirusak oleh buldoser dan alat berat.

Lalu apa maksud dari “hutan adalah jati diri bangsa?”
Hutan adalah jati diri bangsa, begitu kata beliau. Hutan menjadi salah satu hal yang membentuk jati diri kita. Sehingga, menjaga hutan dan semua yang ada di dalamnya termasuk sungai, vital bagi hidup kita. Kepada kaum generasi muda yang tinggal di kota, meski jauh dari hutan dan pedesaan, beliau berpesan sempatkanlah
datang ke hutan. Bila berlibur ke Sumatera Barat, misalnya, datanglah ke hutannya dan lihat apa yang ada di sana. Tidak hanya pergi ke restoran atau tempat makan saat liburan tetapi lihatlah keadaan hutan di tempat itu. Bagaimana mata airnya? Bagaimana keadaan airnya bila dibandingkan dengan air di perkotaan? Dengan merasakan betul seperti apa keadaan hutan dan air di dalamnya, kita menjadi sadar betapa pentingnya fungsi hutan bagi kehidupan kita. Kita tahu bahwa air adalah sumber kehidupan dan kelestariannya tergantung pada keberadaan hutan. Hutan adalah vital bagi kehidupan kita. Meski kita tinggal jauh dari hutan tetapi secara tidak langsung hutan menyediakan air bersih bagi kita. Hutan menjaga agar air yang mengalir di sungai tetap bersih. Hutan memberikan jasa ekosistem bagi menusia selain menyediakan air bersih, hutan juga menyediakan oksigen untuk kita hirup,
menjaga kelestarian tanah, dan mengurangi dampak banjir.

Kembali ke akar

Pembicara kedua yakni Dr. Muhammad Faisal, M.Si. Beliau merupakan Founder Youth Laboratory Indonesia dan penulis buku Generasi Kembali ke Akar. Sejak tahun 2008, beliau telah melakukan riset terhadap generasi muda di Indonesia. Menurut Faisal, kaum muda di Indonesia sangat beragam. Dalam bukunya yang berjudul Generasi Kembali ke Akar, Muhammad Faisal menjelaskan maksud dari “kembali ke akar” adalah suatu fenomena karakter generasi yang akan kembali ke identitas sejatinya sebagai anak muda bangsa yang benar-benar mengerti tentang lingkungannya, masyarakatnya, dan apa makna menjadi putra-putri bangsa.

Hal unik apa yang ditemukan saat mencoba meneliti generasi muda?
Ada kecenderungan yang tidak dipengaruhi oleh digitalisasi. Biasanya, saat generasi muda diterpa dengan perkembangan teknologi digital, generasi muda di negara lain menjadi semakin individualis dan berpusat pada diri mereka sendiri. Tetapi saat generasi muda di Indonesia semakin terpapar dengan perkembangan digital ini,
merasa semakin terasing karena tumbuh besar di era transisi, mereka mencari makna hidupnya dengan komunitas lokal. Ada kecenderungan untuk kembali ke kearifan dan budaya lokal. Hal-hal lama yang ada di daerah mereka seperti pahlawan lokal, buku sejarah, sampai lingkungannya mereka cari.

Contoh generasi muda yang kembali ke akarnya dalam melestarikan lingkungan.
Mardiyah memberikan contoh fenomena kembali ke akar pada generasi muda di daerah Sumatera Barat. Di sana terdapat komunitas lokal yang berisikan kaum muda yang mencari area tracking dan membangun ekowisata berbasis budaya. Di Nusa Tenggara Timur juga terdapat kelompok anak muda yang mengangkat resep masakan di
daerah mereka untuk dibagikan lewat media sosial. Hal itu mendorong anak muda di sana untuk mengembalikan kembali kearifan lokal di sana dan melestarikan lingkungan.

Bagaimana cara komunitas lokal di daerah dapat menghidupi kehidupan ekonomi dan juga peduli terhadap lingkungan?
Ada suatu contoh di Sumatera Barat terdapat organisasi sosial bernama Tuo Rimbo (sesepuh rimba), semacam wali nagari atau kepala desa. Saat kaum muda dari NGO datang ke sana, dihidupkanlah Tuo Rimbo tersebut. Mereka mengembangkan ekowisata, mengelola madu hutan, rotan yang dibuat kerajinan, dan makanan dari hasil
hutan. Di Kalimantan, terdapat anak muda yang memperkenalkan masker bengkuang khas di sana ke media sosial sehingga terjangkau lebih luas. Di Jambi, sekelompok anak muda mengumpulkan dan mengolah buah kersen yang merupakan buah beri khas Jambi, menjadi produk selai. Yang menarik, mereka menjualnya dengan media komik.
Jadi mereka memanfaatkan apa yang ada di daerah mereka dan menghasilkan manfaat untuk ekonomi dan lingkungan dengan sentuhan anak muda sekarang.

Menurut pendapat Muhammad Faisal, apakah ada cara-cara bagi kaum muda yang unik untuk merawat lingkungan? Selama melakukan penelitian di berbagai wilayah di Indonesia?
Contohnya ada beberapa proyek dan gerakan-gerakan baru tentang pengurangan plastik sekali pakai. Mereka mengikuti gaya hidup ala Jepang yang zero waste. Ada juga yang dilakukan secara individual. Namun ada juga hal lain yang bisa diupayakan seperti membangkitkan kembali memori kolektif masyarakat. Contoh di Sumatera Barat dengan filosofi alam takambang jadi guru. Menurut filosofi itu, seorang anak muda sudah menjadi dewasa
apabila sudah paham dan belajar dari alam. Nah jika itu digali kembali, akan menghidupkan tradisi lama tersebut yang fungsinya untuk melestarikan lingkungan hidup. Jadi ada hubungan timbal balik antara tradisi dan lingkungan. Jika lingkungan hidup seperti hutan menghilang, maka tradisi tersebut juga akan menghilang.

Menurut pendapat Mardiyah, apakah ada cara-cara untuk merawat lingkungan yang berangkat dari kearifan lokal?
Di Papua Barat, terdapat burung endemik yang dikenal sebagai burung pintar. Burung pintar memiliki perilaku menghiasi sarangnya dengan bahan alam. Namun sekarang, burung tersebut mengumpulkan sampah tutup botol plastik untuk menghiasi sarangnya. Jadi, sampah sudah menyebar di sekitar situ. Dari kasus itu, kita bisa mengetahui bahwa sampah telah mempengaruhi lingkungan. Menurut Mardiyah, kampanye tentang bahaya plastik baik bagi manusia maupun makhluk hidup harus terus-menerus dilakukan. Kita juga harus menjadi bagian dari solusi. Tidak hanya mengimbau konsumen tetapi juga produsen atau yang memproduksi produk.

Apakah anak muda mampu mempengaruhi pemerintah untuk membuat regulasi?
Menurut Mardiyah, meskipun sulit tetapi beliau yakin bisa. Contoh ada komunitas bebas plastik yang melarang plastik sekali pakai di supermarket. Beliau yakin anak muda bisa, tentu melalui organisasi. Ada contoh lagi di beberapa tempat bahwa perubahan sosial itu bisa didorong oleh 3,5% populasi yang bekerja secara intensif menyuarakan aspirasinya. Itu artinya anak muda bisa untuk mendorong regulasi-regulasi tertentu.

Nah, kesimpulan dari LAKSMI talk kali ini adalah kaum muda di Indonesia cenderung untuk kembali ke kearifan lokalnya masing-masing menurut Muhammad Faisal dan menurut Mardiyah, kaum muda selain bisa menjalankan kehidupan ekonominya, juga bisa melestarikan lingkungannya berangkat dari kearifan lokalnya.
Lalu apa yang bisa kita lakukan selanjutnya? Mulai dari diri sendiri. Dengan berkebun, mengerem gaya hidup yang konsumtif, dan kembali ke alam adalah strategi terbaik untuk menginspirasi orang lain, dan juga berguna bagi lingkungan.

Penulis: Titus Trias Trapsila