Foto oleh Dewa Gede Wipa Wira Utama

Bicara soal wisata persawahan dan area terasering di Bali, nama Ubud mungkin sudah sangat populer. Tapi tahukah Sobat Laksmi, masih banyak desa dengan hamparan sawah yang tak kalah indah dari Ubud. Di antaranya Desa Nyambu yang terletak di Kecamatan Kediri, Tabanan. Tak hanya pemandangan asri dari saja, tapi juga sejarah dan budayanya patut untuk dikulik.

Di Nyambu, terdapat 67 pura, yang digadang sebagai desa dengan pura terbanyak di Bali. Pura-pura ini dibangun sejak zaman Kerajaan Kediri hingga Kerajaan Majapahit, dan masih terawat hingga kini. Dari sudut pandang sejarah, Nyambu memiliki peran penting dalam penyebaran ajaran Hindu. Dilansir dari Antara News, pada abad ke-15, ajaran Hindu mulai masuk ke kawasan Nyambu, ditandai dengan kedatangan pendeta dari Kerajaan Majapahit bernama Dang Hyang Nirartha. Kedatangannya ditandai dengan prasasti batu yang ada di Pura Dang Kahyangan Rsi di Mundeh.

Pura di Nyambu/Foto oleh Dewa Gede Wipa Wira Utama – I Putu Nanda Aditya Krisnanta

Selain itu, ada fakta menarik lagi tentang desa ekowisata ini, yaitu sistem irigasi persawahannya. Masyarakat Nyambu masih memakai cara tradisional, yaitu dengan Subak. Bahkan, sistem pengairan tradisional ini sudah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 2012 lalu. Ditambah, ada 22 sumber mata air yang tersebar di penjuru desa. Tak heran, jika air menjadi sangat sakral di Nyambu. Seperti yang kita tahu, masyarakat Hindu di Bali menjunjung tinggi filosofi Tri Hita Karana atau Tat Twan Asi, atau tiga filosofi kehidupan, terdiri dari Parahyangan, hubungan manusia dengan Tuhan; Pawongan, hubungan manusia dengan sesama manusia; Palemahan, hubungan manusia dengan lingkungan alam.

Namun sayangnya, pengembangan potensi alam di Nyambu terganjal masalah sampah plastik yang semakin merusak lingkungan. Kondisi itu dibenarkan oleh Kepala Desa Nyambu, I Nyoman Biasa. Ia mengatakan semakin banyak sampah plastik ditemukan di jalur pengairan sawah.

“Di parit-parit kecil itu yang menjadi kendala, kalau menemui sampah plastik, saya biasakan dikumpulkan dimasukkan ke sak. Kan ada banyak saluran air, kalau di Bali namanya Temuku, kalau sudah ngumpul di sana, diambil disingkirkan. Sampai sekarang itu masih menjadi PR kami,” ujarnya saat diwawancara Laksmi.

Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan, mengingat air sebagai sumber kehidupan, ditambah nilai kesakralan yang dianut oleh masyarakat Nyambu. Dampak semakin banyaknya sampah plastik di sistem pengairan sawah, juga dirasakan Luh Putu Listya Sari, salah satu pengurus Karang Taruna Nyambu.

“Sekarang kondisi airnya beda, sudah keruh. Jadi kalau mau nyuci (di aliran sungai) ya jadi mikir-mikir dulu,” kata Listya.

Menghadapi tantangan itu, Pemerintah Desa Nyambu akhirnya meresmikan regulasi untuk menangani masalah sampah plastik sekali pakai. Dalam menjalankan inovasi itu, Diageo bersama British Council hadir mendampingi masyarakat Nyambu, salah satunya lewat program Langkah Komunitas Mengurangi Plastik (LAKSMI).

“Sejak kita didaulat menjadi desa ekowisata, sudah tampak ada perubahan. Ada perubahan mindset tentang bahaya sampah plastik. Kami pemerintah desa, serius sekali mengolah masalah sampah bekerja sama dengan Laksmi, yang selalu mendampingi kami, memberikan support kami, mengubah mindset kami tentang sampah plastik. Ke depannya tinggal menularkannya kepada masyarakat,” jelas I Nyoman Biasa.

Kini, berbagai inovasi dan upaya terus dilakukan. Berdampingan dengan Saraswati, Diageo Indonesia, British Council, dan Yayasan Wisnu, Desa Nyambu kini terus berbenah. Selama pandemi, masyarakat Nyambu mulai memilah sampah dan mengompos. Tak hanya itu, mereka juga mengurangi pemakaian sampah plastik, di antaranya dengan menyalurkan botol air pakai-ulang di beberapa tempat wisata dan pura yang ada di Nyambu.