Di era serba digital, tentu sudah tidak asing lagi dengan banyaknya gadget di sekitar kita. Sekarang, gadget seperti menjadi kebutuhan primer, seakan wajib hukumnya bagi setiap individu untuk, paling tidak memiliki satu ponsel. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini, hampir seluruh aktivitas beralih menjadi daring. Jadi tidak mengherankan jika setiap orang bisa menggunakan lebih dari satu gadget. Tidak hanya itu, ada juga masyarakat yang gemar mengoleksi berbagai macam gadget, bahkan ada yang terbiasa membeli gadget baru setiap munculnya produk baru.

sumber: pinterest.com

Tapi, tahukah kalian bahwa gadget juga merupakan salah satu sampah elektronik yang berdampak buruk bagi lingkungan?

Menurut European Union (EU), sampah elektronik dikelompokkan menjadi beberapa kategori. Pertama, perangkat besar rumah tangga yaitu, lemari es, mesin cuci baju, mesin pencuci piring, kompor listrik, microwave, kipas angin listrik dan AC (air conditioner). Kedua, perangkat kecil rumah tangga, seperti penghisap debu, pemanggang roti, mesin pembuat kopi, mesin potong rambut. Ketiga, perangkat teknologi komunikasi. Meliputi antara lain komputer printer, telepon seluler, laptop. Keempat, perangkat hiburan. Misalnya, televisi, kamera, alat-alat musik. Kelima, perangkat penerangan yaitu, lampu. Keenam, perkakas elektronik, yaitu bor, gergaji, gerinda, alat patri, penyugu dan sebagainya. Ketujuh, alat-alat mainan dan rekreasi, seperti mobil-mobilan listrik, dan perangkat-perangkat olahraga yang mengandung elemen listrik. Kedelapan, perangkat medis. Misalnya, peralatan radiotherapi, ventilator, mesin pacu jantung, mesin pencuci darah serta peralatan kedokteran nuklir. Kesembilan, peralatan pemantau dan pengendali. Antara lain alat pendeteksi asap dan pengatur panas. Kesepuluh, dispenser otomatis untuk minuman serta sejumlah peralatan yang secara otomatis mampu menyediakan/menghasilkan produk-produk tertentu.

Kini, sampah elektronik dari berbagai kategori itu semakin menggunung. Menurut Global E-waste Statistic Partnership, total sampah elektronik dunia saat ini mencapai 53,6 juta ton. Sampah elektronik ini tidak dapat diabaikan, sebab sampah elektronik sangat berbahaya bagi lingkungan. Sampah elektronik memiliki komponen yang mengandung bahan beracun berbahaya (B3) seperti merkuri, mangan, timbal, lithium, dan cadmium. Komponen tersebut cukup sulit terurai di lingkungan, juga berbahaya bagi kesehatan seperti, merusak ekosistem dan dapat memicu kanker apabila tidak dapat ditangani dengan baik.

Nah, lalu apa yang bisa lakukan?

Yuk, berhenti membeli gadget baru yang tidak benar-benar diperlukan, terlebih kalau masih memiliki gadget yang dapat digunakan dengan baik. Dengan memulai langkah menghentikan sikap konsumtif, kita bisa ikut serta mengurangi dan mencegah bahaya dari sampah elektronik.

REFERENSI

Menangani Sampah Elektronik, Bagaimana Seharusnya?


Sutarto, E. (2008), Identifikasi Pola Aliran E-Waste Komputer Dan Komponennya di Bandung. ITB Bandung

Di tulis oleh: Naura Afrianti