Ilustrasi diet oleh Louis Hansel on Unsplash

Tren gaya hidup sehat makin populer, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini. Banyak orang yang mulai mencoba menjalani hidup sehat, dengan berolahraga dan memilih makanan-makanan sehat. Ada juga yang mulai menjalani berbagai macam diet, seperti diet karbo, diet gluten dan masih banyak lagi. Tapi pernahkah, Sobat Laksmi mendengar istilah sustainable diet atau dalam Bahasa Indonesia disebut diet sehat berkelanjutan?

Sustainable diet adalah cara mengatur pola makanan yang sehat dan berkelanjutan. Melansir dari laman Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut sustainable diet adalah jenis diet yang memiliki dampak bagi ketahanan pangan, gizi, dan kehidupan sehat untuk generasi mendatang. Cara mengatur pola makan ini memiliki sifat melindungi dan menghormati keanekaragaman hayati dan ekosistem. Intinya, konsep sustainable diet itu apa yang dikonsumsi, baik untuk tubuh dan lingkungan secara menyeluruh.

Jika umumnya kita mengetahui diet hanya berfokus pada apa yang harus dikonsumsi, sustainable diet tidak hanya berhenti di situ. Jenis diet ini sangat memperhitungkan berbagai aspek berkelanjutan yang terdiri dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Jadi, diet sangat memperhitungkan:

  1. Kandungan apa yang terdapat dalam makanan tersebut?
  2. Dari mana makanan itu berasal?
  3. Bagaimana cara menanam dan mendapatkan makanan tersebut?
  4. Berapa lama makanan itu bisa bertahan?
  5. Bagaimana cara memproses makanan itu?

Mungkin terdengar sangat kompleks, namun sebenarnya sangat sederhana. Konsep sustainable diet ini sangat mendukung keanekaragaman pangan dan pangan lokal. Sehingga, jenis diet ini sangat mudah diterapkan, Sobat Laksmi.

Generalisasi dan komoditas makanan menjadi salah satu tantangan dalam menjalani diet ini. Pernahkah kalian merasa bosan dengan makanan yang itu-itu saja? Ayam, daging, jenis sayur yang dirasa sangat terbatas, dan buah-buahan yang monoton. Padahal menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro, Indonesia memiliki beragam jenis pangan, di antaranya “77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 26 jenis kacang-kacangan, 228 jenis sayuran, serta 289 jenis buah-buahan,” dilansir dari laman Kata Data (2018).

Makanan sehat oleh Brooke Lark on Unsplash

Sustainable diet tidak hanya memikirkan kandungan gizi yang ada dalam makanan dan kebutuhan tubuh saja. Tapi, juga mempertimbangkan dari mana makanan itu berasal, apakah proses penanamannya menimbulkan karbon berlebih atau tidak. Apakah cara memperoleh makanan ini sulit, hingga harus diimpor, sehingga memerlukan lebih banyak energi. Misalnya saja, gandum atau oats yang populer sebagai salah satu makanan sehat dan baik untuk diet. Di Indonesia, gandum tidak bisa tumbuh, sehingga orang Indonesia yang ingin makan harus mengimpornya. Sedangkan untuk impor memerlukan energi lebih, lewat jalur darat, laut dan udara, berapa karbon yang terlepas ke atmosfer demi memakan gandum?

Lalu bagaimana cara menerapkan sustainable diet ini? Berikut di antaranya:

  1. Memprioritaskan pangan lokal. Sobat Laksmi bisa mengeksplor pangan lokal apa saja yang ada di daerah kalian. Misalnya saja di Gunungkidul sangat mudah ditanami singkong, sehingga kebutuhan karbohidrat bisa diganti dengan singkong yang diolah menjadi tiwul. Begitu juga di Papua di mana sagu sangat subur. Jadi tidak harus melulu makan nasi.
  2. Mengonsumsi makanan yang beragam. Kalian juga bisa mengeksplorasi berbagai jenis sayuran, buah dan kacang-kacangan. Misalnya jika pagi makan kentang, makan siang bisa dengan nasi, dan makan malamnya sagu. Begitu juga dengan sayur dan buahnya.
  3. Memperhatikan kandungan gizi dalam makanan. Perhatikan juga gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi, pastikan tidak berlebihan, jadi harus seimbang.

Selain tips itu, ada yang harus diperhatikan jika ingin menerapkan sustainable diet. Jenis diet ini bukan vegan atau vegetarian. Sobat Laksmi masih bisa saja mengonsumsi daging, karena kebutuhan gizi, tapi kembali lagi ke poin pertama, pangan lokal. Poin penting lainnya, ialah tidak berlebihan. Ayo menerapkan sustainable diet!

Penulis: Siwi Nur Wakhidah