Sumber foto: Vogue.com

Industri fesyen bergerak pesat mengikuti perkembangan zaman dan makin tingginya gaya hidup konsumtif, terutama keinginan memenuhi kebutuhan fesyen yang stylish. Fesyen tidak hanya menjadi kebutuhan wajib yang perlu dipenuhi sebagai kebutuhan primer, tetapi fesyen juga dijadikan sebagai pemenuhan gaya hidup yang trendy. Apalagi di era globalisasi saat ini, industry fast fashion menjadi trend yang digandrungi. Masyarakat mudah tergoda dengan pakaian yang terlihat keren, apalagi kalau diskon. Tapi perlu diketahui bahwa kebiasaan belanja beraneka macam pakaian, selain menyebabkan isi dompet menipis, juga berdampak buruk untuk lingkungan.

Pada konteks “mode cepat” memang menjadikan kesempatan untuk konsumen membeli lebih banyak pakaian dengan harga lebih murah. Sejalan dengan meningkatnya pola konsumsi secara global telah menciptakan jutaan ton limbah tekstil di tempat pembuangan sampah (Rachel Bick, The Global Environmental Injustice of Fast Fashion, 2018). Permasalahan utama pencemaran lingkungan akibat industri fesyen datang atau bersumber dari bahan baku. World Wild Fund (WWF) Organisasi non pemerintah berbasis lingkungan mengkritik penggunaan sumber daya air yang sangat besar pada industri fast fashion. WWF mengungkap penggunaan air sebanyak 20.000 liter hanya untuk memproduksi satu kilogram kapas yang hanya dapat digunakan untuk membuat satu buah kaos dan sepasang celana jeans. Hal ini menjadi masalah karena kebutuhan air untuk membuat sepasang baju melebihi jumlah air yang dibutuhkan individu untuk memenuhi kebutuhan minumnya selama lima hingga 6 tahun (Sustainable Fashion Matterz).

Produsen juga menggunakan bahan alternatif instan seperti poliester, tekstil sintesis, nilon dan akrilik yang mana bahan-bahan ini adalah sejenis plastik yang terbuat dari minyak bumi, yang berarti butuh waktu hingga seribu tahun untuk terurai (Queensland, 2019). Selain waktu urai yang tidak singkat, serat mikro dari bahan baku sintetis menyumbang 85% pencemar plastik di laut (Burton, 2017). Penelitian dari Ellen MacArthur Foundation menyebutkan bahwa industri fesyen menghasilkan emisi gas yang lebih merusak iklim dibandingkan industri pelayaran dan penerbangan digabungkan menjadi satu.

Lalu, apa langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan untuk mengurangi bahaya limbah fesyen?

Pertama, lakukan kegiatan bongkar lemari. Pisahkan pakaian-pakaian yang sudah jarang digunakan. Jika dirasa tidak ingin dipakai kembali bisa dibagikan ke orang-orang yang membutuhkan atau dijual di platform penjualan barang bekas yang sudah tersebar luas di masyarakat.

Kedua, stop membeli pakaian, lakukan mix and match fesyen. Mix and match fesyen adalah aktivitas memadukan model dan warna agar tampil kece. Teman-teman bisa mencari informasi seputar mix and match fesyen dan dipraktikan dengan pakaian-pakaian yang dimiliki tanpa perlu membeli yang baru.

Ketiga, mendaur ulang. Kain-kain baju yang sudah tidak digunakan lagi dapat didaur ulang menjadi produk yang lain. Sebagai contoh, sisa kain digunakan untuk membuat masker. Selain itu, teman-teman juga bisa mendesain ulang pakaian yang dimiliki menjadi model baru.

Keempat menggunakan produk yang mengusung konsep sustainable fashion. Produk fesyen yang dibentuk dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan (eco friendly) dan dari bahan-bahan di daur ulang.

Memang mengawali perubahan gaya hidup bukan hal yang mudah, tapi yang terpenting dimulai dulu dari hal-hal kecil yang akan berdampah besar. Yuk, semua pasti bisa fashionable, tapi tetap ikut merawat lingkuan di bumi yang kita huni ini!

 

Referensi:

Burton, O. (2017, Oktober 11). 75% Of New Fashion is Made From Plastic And It’s Not Sustainable. Retrieved Mei 25, 2019, from The Green Hub: https://thegreenhubonline.com/2017/10/11/75-of-newclothing-is-made-from-plastic-and-its-not-sustainable/

Queensland, T. U. (2019). Fast Fashion Quick To Cause Environmental Havoc. Retrieved Mei 29, 2019, from The University of Queensland Australia: https://sustainability.uq.edu.au/projects/recycling-andwaste-minimisation/fast-fashion-quick-causeenvironmental-havoc

Rachel Bick, E. H. 2018. The Global Environment Injustice of Fast Fashion. BMC , 5.

Sustainable Fashion Matterz. (n.d.). Fashion Fact. Retrieved Mei 25, 2019, from Sustainable Fashion Matterz: https://www.sustainablefashionmatterz.com/fashionfacts/

WWF. (n.d.). Sustainable Agriculture;Cotton. Retrieved Mei 25, 2019, from https://www.worldwildlife.org/industries/cotton

Di tulis oleh: Naura Afrianti