Pada Jumat, 19 Februari 2021 kemarin, lebih dari 40 peserta dari Sabang sampai Merauke berkumpul di webinar LAKSMI Talks: Indonesia Darurat Plastik. LAKSMI Talks adalah bagian dari rangkaian kampanye #berubahdarirumah. LAKSMI sendiri adalah program yang diselenggarakan oleh Saraswati, dan Diageo Indonesia. LAKSMI saat ini memiliki program pendampingan di Desa Nyambu, Tabanan, Bali dalam rangka mengupayakan desa pengurangan plastik sekali pakai pertama dan mendorong ekowisata Nyambu. Nah, LAKSMI Talks merupakan salah satu program LAKSMI yang tujuannya, berbagi mengenai isu-isu lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan strategi pengurangan plastik sekali pakai. Dalam webinar ini, LAKSMI juga mengundang pembicara yang menginspirasi.

 

Bersama, kita bisa membawa perubahan

     Di sesi pertama ada Wayan Aksara, ketua Trash Hero Indonesia. Dalam kesempatan itu, Bli Aksara memaparkan informasi mengenai kondisi terkini sampah nasional yang mencapai 67.8 juta ton. Sampah organik, plastik dan kertas, menjadi penyumbang sampah terbesar.  Mengapa hal ini terjadi? Aksara menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi akibat kurangnya kesadaran masyarakat terhadap dampak buruk dari sampah untuk lingkungan, dan ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan plastik sekali pakai. Ditambah dengan sistem pengangkutan sampah yang belum maksimal, yakni hanya 75% sampah terangkut ke TPA. Meskipun begitu, pemerintah Bali juga telah menetapkan peraturan Gubernur Bali nomor 97 tahun 2018 tentang pelarangan penggunaan sampah sekali pakai seperti, styrofoam, kresek, dan sedotan plastik.

Lalu, hal apa saja yang perlu kita lakukan untuk mengurangi penggunaan sampah?

Pertama, pisahkan sampah berdasarkan jenisnya dan manfaatkan sampah dengan cara mendaur ulang. Kedua, kurangi penggunaan sampah sekali pakai seperti, mengganti penggunaan sedotan plastik dengan sedotan bambu, membawa botol minuman peganti botol plastik, dan mengganti bungkus kertas dengan daun pisang. Dan terakhir, pertahankan kebiasaan tersebut secara terus-menerus setiap harinya. Di sesi akhirya, Wayan Aksara menegaskan bahwa usaha yang paling pasti untuk mengurangi sampah harus dimulai dari diri sendiri, kemudian terlibat melakukan aksi membersihkan lingkungan  dan ikut serta mengedukasi masyarakat.

Upaya Desa Nyambu mewujudkan desa ekoswisata

   Di sesi kedua, ada I Wayan Biasa, Kepala Desa Nyambu. Bli Biasa menceritakan bahwa di Desa Nyambu telah memiliki bank sampah yang dikelola sebagai tempat pemisahan sampah berdasarkan jenisnya. Ke depannya, I Wayan Biasa berencana, setiap sampah yang dikumpulkan dapat menghasilkan rupiah untuk masyarakat.  Ia berharap dukungan masyarakat turut serta agar seluruh rangkaian program kerja untuk mencapai desa ekowisata bebas sampah sekali pakai dapat terlaksana. Di sesi kedua ini, salah satu peserta bernama Rahma bertanya, “Apakah di Desa Nyambu ketika ada acara kenduri telah menggunakan makanan lokal bebas plastik? Lalu, apakah Desa Nyambu sebagai desa ekowisata menyediakan penginapan untuk turis yang berkunjung? Dan di masa pandemi ini apakah ada pengurangan jumlah wisatawan yang juga mengakibatkan berkurangnya sampah?”

I Wayan Biasa menerangkan, bahwa setiap acara di Desa Nyambu, panganan yang dipakai berasal dari lokal yang dibungkus menggunakan daun pisang. Di Desa Nyambu juga menyediakan penginapan untuk wisatawan yang berkunjung dan tinggal bersama penduduk lokal, dan di masa pandemi, jumlah wisatawan memang berkurang. Namun justru berpengaruh baik, karena berkurangnya sampah. Meskipun begitu, I Nyoman Biasa tetap berharap pandemi segera berakhir dan wisatawan mulai kembali datang, serta program desa ekowisata bebas sampah sekali pakai juga dapat terwujud.

Yuk, berubah dari rumah. Mulai aja dulu!

Di sesi terakhir, ada Mega Kusuwa Wardhani, pemenang #BerubahDariRumah tahun 2020. Ia membagikan cerita perjuangannya mengurangi sampah selama 30 hari! Ia membagikan beberapa tips di antaranya:

  1. Membawa alat makan dan minum yang reuseable

Menggunakan alat makan dan minum yang berbahan non-plastik yang kalian miliki.

  1. Membawa kantong belanja sendiri

Teman-teman dapat membawa kantong kain yang dapat dipakai berkali-kali.

  1. Mengganti cemilan dengan membuat cemilan sendiri

Mengurangi jajan cemilan di minimarket dengan membuat cemilan sendiri. Selain mengurangi penggunaan sampah juga berdampak baik untuk kesehatan, tapi juga karena bahan-bahan yang digunakan adalah bahan aman dan sehat.

  1. DIY deodorant

Prosesnya memang tidak mudah, tapi dengan mencoba-coba membuat DIY deodorant atau produk lainnya. Selain mengurangi penggunaan sampah juga bisa menjadikan kalian lebih kreatif.

  1. Menggunakan pembalut kain atau menstrual cup

Sampah pembalut tidak bisa diurai sehingga menggunakan penganti  pembalut seperti, kain ataupun menstrual cup.

  1. Regrow

Sisa-sisa sampah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dengan mengubahnya menjadi kompos, yang bisa digunakan untuk berkebun. Tidak hanya itu, mendaur ulang sampah menjadi barang yang bisa dipakai kembali juga bisa jadi solusi. Sebagai contoh mengubah kaleng bekas menjadi pot tanaman.

Di sesi terkahir ini, Mega menegaskan bahwa mengurangi sampah harus selalu mengingat rumus 6R yaitu, rethink, reduce, refuse, reuse, rot, dan recycle. Dan Mega mengungkapkan bahwa perubahan memang butuh proses, fokus lakukan yang bisa dilakukan, dan teruslah belajar dan konsisten!

Nah teman-teman, yuk mulai aja dulu dengan ikutan kampanye #BerubahDariRumah selama 30 hari yang di mulai sejak 21 Februai 2021. Mau tahu cara ikutnya? Simak poster berikut ini ya!

Di tulis oleh: Naura Afrianti